Pada
zaman kapitalisme ini konsumen seakan menjadi pihak terjajah atas hegemoni para
pengusha yang mempunyai kontrol harga atas sebuah barang. Selain itu para kapitalis
juga tidak terkontrol dalam hal meraup keuntungan dari konsumen. Serakah
seperti sudah menjadi watak dasar bagi para kapitalis bahwasanya meraup keuntungan sebanyak banyaknya dari konsumen merupakan hal yang wajar dan
seharusnya dilakukan. Bila dicermati
watak para kapitalis ini memang terlihat kejam dan tak berbelas kasih. Namun siapa
sangka ternyata para kapitalis (dalam
hal ini pengusaha dan pedagang) juga mempunyai dimensi etik yang diperuntukan
kepada konsemennya sebagai hari kemerdekaan konsumen.
Black
Friday, inilah hari kemerdekaan bagi para konsumen. Hari ini berlangsung hanya
satu hari selama satu tahun, tepatnya sehari setelah pelaksanaan hari thanks
giving (mengenai hari thanks giving, silahkan baca di sini). Black Friday
merupakan hari yang sangat dinantikan oleh warga Amerika Serikat khususnya
warga kristiani. Black Friday adalah hari pemberian diskon yang sangat besar
oleh para pengusaha dan pedagang sehingga animo untuk berbelanja semakin
bergairah.
Kalian
pasti belum tahu apa itu Black Friday dan bagaimana sejarahnya. Black Friday
bukanlah hari jumat gelap atau hari yang penuh dengan duka tapi black Friday
adalah hari yang penuh dengan kegembiraan dan selalu dinantikan karena hari ini
terjadi satu hari selama satu tahun.
Black Friday sebagai kemerdekaan konsumen dilaksanakan pada hari setelah
hari thanks giving yaitu hari kamis pada minggu keempat pada bulan November. Sementara
ini belum ada sumber yang jelas siapa pelopor pertama Black Friday ini tapi
yang pasti Black Friday sangat popular di Amerika Serikat. Oleh warga Amerika
Black Friday dijadikan momentum untuk berbelanja kebutuhan hidup satu bulan
berikutnya yakni guna menyambut hari natal.
Baca Juga : HARI THANKSGIVING DI AMERIKA DAN INDONESIA
Black
Friday dikatakan sebagai kari kemerdekaan konsumen karena pada hari Black
Friday para pengusaha dan pedagang memberikan diskon yang sangat besar kepada
konsumennya.
Bagaimana
di Indonesia, apakah Black Friday atau semacamnya juga ada? Silahkan berasumsi
sendiri. Tapi dari sepengetahuan saya, Black Friday atau semacamnya di
Indonesia tidak pernah saya jumpai. Kemerdekaan konsumen sangat semu di negeri
ini. Konsemen hanya menjadi sapi perah bagi tuannya, dan tidak mempunyai hari special
layaknya yang terjadi di Amerika. Diskon yang diberikan oleh pengusaha maupun
pedagang hanyalah tipu – tipu belaka karena harga yang mereka diskonkan
merupakan harga yang telah dinaikkan terlebih dahulu sehingga tidak akan
mengurangi keuntungan seperti hari – hari biasanya. Bila tidak percaya silahkan
amati dan kroscek ke lapangan ketika menjelang hari sibuk yaitu hari besar Islam
misalnya hari raya idul fitrih.
Pada
bulan puasa dan menjelang hari raya idul fitrih , barang – barang kebutuhan
sandang,papan,pangan semuanya kompak harganya naik drastis. Entah apa yang
terjadi mengapa fenomena tersebut kompak bila menjelang hari raya idul fitri.
Fenomena
black Friday ini menarik untuk dikaji, selama ini asumsi kapitalis jahat tidak
bernurani dan kafir perlu dipertimbangkan, bila melihat kedermawanan mereka di
hari yang special bagi umat kristiani di Amerika.